Lompat ke isi

Chad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Republik Cad

République du Tchad (Prancis)
جمهورية تشاد
Jumhūriyat Tšād (Arab)
Bendera Cad
Bendera
{{{coat_alt}}}
Lambang
Semboyan: Unité, Travail, Progrès
(Indonesia: "Persatuan, Karya, Kemajuan")
Lagu kebangsaan: La Tchadienne
(Indonesia: "Orang-orang Chad")
Lokasi  Chad  (hijau tua)

 di Afrika  (biru muda & kelabu tua)
 di Uni Afrika  (biru muda)

Lokasi Cad
Ibu kota
N'Djamena
12°6′N 16°2′E / 12.100°N 16.033°E / 12.100; 16.033
Bahasa resmiPrancis dan Arab
PemerintahanRepublik presidensial
 Presiden
Mahamat Déby
Allamaye Halina
LegislatifDewan Transisi Nasional
Kemerdekaan
 Dari Prancis
11 Agustus 1960
Luas
 - Total
1.284.000 km2 (20)
 - Perairan (%)
1,9
Populasi
 - Perkiraan 2022
17.963.211[1] (67)
8,6/km2
PDB (KKB)2018
 - Total
$30 miliar[2] (123)
$2.428[2] (168)
PDB (nominal)2018
 - Total
$11 miliar[2] (130)
$890[2] (151)
Gini (2018)37,5[3]
sedang
IPM (2021)Penurunan 0,394[4]
rendah · 190
Mata uangFranc CFA Afrika Tengah (FCFA)
(XAF)
Zona waktuWaktu Afrika Barat (WAT)
(UTC+1)
Lajur kemudikanan
Kode telepon+235
Kode ISO 3166TD
Ranah Internet.td
Sunting kotak info
Sunting kotak info Lihat Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Cad,[a] dengan nama resmi Republik Cad,[b] adalah negara yang terkurung daratan di persimpangan Afrika Utara dan Afrika Tengah. Negara ini berbatasan dengan Libya di utara, Sudan di timur, Republik Afrika Tengah di selatan, Kamerun dan Nigeria di barat daya (di sekitar Danau Chad), serta Niger di barat. Cad memiliki populasi sebanyak 19 juta jiwa, dengan 1,6 juta di antaranya tinggal di ibu kota sekaligus kota terbesarnya, N'Djamena. Dengan luas wilayah sekitar 1.300.000 km²,[5] Cad merupakan negara terbesar kelima di Afrika dan negara terbesar ke-20 di dunia berdasarkan luas wilayah.

Cad memiliki beberapa wilayah geografis, yakni gurun Sahara di utara, zona kering Sahel di bagian tengah, dan zona sabana Sudan yang lebih subur di selatan. Danau Chad, yang menjadi asal nama negara ini, merupakan lahan basah terbesar kedua di Afrika. Bahasa resmi Cad adalah Arab dan Prancis.[6] Negara ini dihuni oleh lebih dari 200 kelompok etnis dan bahasa. Islam (55,1%) dan Kristen (41,1%) adalah agama utama yang dianut di Cad.[7][8]

Sejak milenium ke-7 SM, manusia mulai bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah cekungan Cad. Menjelang akhir milenium pertama Masehi, serangkaian negara dan kekaisaran muncul dan runtuh di jalur Sahel Cad, masing-masing berfokus pada penguasaan rute perdagangan lintas Sahara yang melintasi wilayah tersebut. Prancis menaklukkan wilayah ini pada tahun 1920 dan memasukkannya sebagai bagian dari Afrika Khatulistiwa Prancis. Pada tahun 1960, Cad memperoleh kemerdekaan di bawah kepemimpinan François Tombalbaye. Ketidakpuasan terhadap kebijakannya di wilayah utara yang mayoritas Muslim memicu pecahnya perang saudara berkepanjangan pada tahun 1965. Pada tahun 1979, kelompok pemberontak berhasil merebut ibu kota dan mengakhiri dominasi wilayah selatan. Para komandan pemberontak kemudian saling bertikai hingga Hissène Habré berhasil mengalahkan rival-rivalnya. Konflik Cad–Libya meletus pada tahun 1978 akibat invasi Libya dan berakhir pada tahun 1987 setelah intervensi militer Prancis (Operasi Épervier). Hissène Habré kemudian digulingkan pada tahun 1990 oleh jenderalnya sendiri, Idriss Déby. Dengan dukungan Prancis, modernisasi Angkatan Bersenjata Cad dimulai pada tahun 1991. Sejak tahun 2003, krisis Darfur di Sudan meluas hingga melintasi perbatasan dan menyebabkan ketidakstabilan di Cad. Negara yang sudah miskin ini kesulitan menampung ratusan ribu pengungsi Sudan di wilayah timur Cad.

Meskipun banyak partai politik berpartisipasi dalam lembaga legislatif Cad, yaitu Majelis Nasional, kekuasaan tetap terpusat di tangan Gerakan Pembebasan Patriotik selama masa kepresidenan Idriss Déby, yang pemerintahannya digambarkan sebagai otoriter.[9][10][11] Setelah Presiden Déby tewas dalam pertempuran dengan pemberontak FACT pada April 2021, Dewan Militer Transisi yang dipimpin oleh putranya, Mahamat Déby, mengambil alih pemerintahan dan membubarkan Majelis tersebut.[12] Cad terus dilanda kekerasan politik dan upaya kudeta yang berulang. Negara ini menempati peringkat keempat terendah dalam Indeks Pembangunan Manusia dan termasuk di antara negara termiskin dan paling korup di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan sebagai peternak dan petani subsisten. Sejak tahun 2003, minyak mentah menjadi sumber utama pendapatan ekspor negara ini. Cad memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk.

Sejarah awal

[sunting | sunting sumber]

Pada milenium ke-7 SM, kondisi ekologi di bagian utara wilayah Cad mendukung pemukiman manusia, dan populasinya meningkat secara signifikan. Beberapa situs arkeologi terpenting di Afrika ditemukan di Cad, terutama di Region Borkou-Ennedi-Tibesti; beberapa di antaranya berasal dari sebelum tahun 2000 SM.[13][14]

Kelompok pejuang Kanem-Bu. Kekaisaran Kanem–Bornu menguasai hampir seluruh wilayah Cad modern.

Selama lebih dari 2.000 tahun, Cekungan Cad telah dihuni oleh masyarakat agraris dan menetap. Wilayah ini menjadi titik pertemuan berbagai peradaban. Yang paling awal di antaranya adalah Sao yang legendaris, dikenal melalui artefak dan sejarah lisan. Peradaban Sao ditaklukkan oleh Kekaisaran Kanem,[15][16] yang merupakan kekaisaran pertama dan paling lama bertahan di jalur Sahel Cad menjelang akhir milenium pertama Masehi. Dua negara lain di wilayah ini, Kesultanan Bagirmi dan Kekaisaran Wadai, muncul pada abad ke-16 dan ke-17. Kekuatan Kanem dan para penerusnya didasarkan pada penguasaan jalur perdagangan trans-Sahara yang melintasi wilayah tersebut.[14] Negara-negara ini, yang setidaknya secara tersirat beragama Islam, tidak pernah memperluas kekuasaannya ke padang rumput di selatan, kecuali untuk melakukan perburuan budak.[17] Di Kanem, sekitar sepertiga dari populasinya adalah budak.[18]

Masa kolonial Prancis (1900–1960)

[sunting | sunting sumber]
Gubernur Jenderal Félix Éboué menyambut Charles de Gaulle di koloni Cad.

Ekspansi kolonial Prancis menyebabkan terbentuknya Territoire Militaire des Pays et Protectorats du Tchad pada tahun 1900. Pada tahun 1920, Prancis berhasil menguasai wilayah ini sepenuhnya dan memasukkannya sebagai bagian dari Afrika Khatulistiwa Prancis.[19] Pemerintahan kolonial Prancis di Cad ditandai oleh tidak adanya kebijakan untuk menyatukan wilayah ini serta lambatnya proses modernisasi dibandingkan dengan koloni Prancis lainnya.[20]

Prancis memandang koloni ini terutama sebagai sumber tenaga kerja yang tidak terlatih dan kapas mentah yang tidak penting. Produksi kapas skala besar mulai diperkenalkan pada tahun 1929. Pemerintahan kolonial di Cad mengalami kekurangan tenaga kerja yang parah dan harus bergantung pada aparatur sipil Prancis kelas bawah. Hanya wilayah Sara di selatan yang dikelola secara efektif; kehadiran Prancis di wilayah utara dan timur yang mayoritas Islam bersifat nominal. Sistem pendidikan sangat terdampak oleh pengabaian ini.[14][20]

Fokus pemerintahan Prancis pada kapas menyebabkan terbentuknya kelas bawah yang rapuh, terdiri dari pekerja pedesaan dengan upah rendah, penurunan produksi pangan, bahkan kelaparan di beberapa wilayah.[21] Ketegangan antara petani dan elit memuncak pada peristiwa pembantaian Bébalem tahun 1952 oleh otoritas kolonial.[22][23]

Seorang tentara Cad yang bertempur untuk Tentara Pembebasan Prancis selama Perang Dunia II. Pasukan ini terdiri dari 15.000 tentara dari Cad[24]

Setelah Perang Dunia II, Prancis memberikan status wilayah seberang laut kepada Cad dan memberikan hak kepada penduduknya untuk memilih perwakilan di Majelis Nasional serta di majelis Cad sendiri. Partai politik terbesar saat itu adalah Partai Progresif Cad (bahasa Prancis: Parti Progressiste Tchadien, PPT), yang berbasis di wilayah selatan koloni. Cad memperoleh kemerdekaan pada 11 Agustus 1960 dengan pemimpin PPT, François Tombalbaye, yang berasal dari etnis Sara, sebagai presiden pertamanya.[14][25][26]

Pemerintahan Tombalbaye (1960–1979)

[sunting | sunting sumber]

Dua tahun kemudian, Tombalbaye melarang partai-partai oposisi dan mendirikan sistem satu partai. Pemerintahannya yang otokratis dan pengelolaan yang tidak sensitif memperparah ketegangan antar etnis. Pada tahun 1965, umat Muslim di utara, yang dipimpin oleh Front Pembebasan Nasional Cad (bahasa Prancis: Front de libération nationale du Tchad, FRONILAT), memulai perang saudara. Tombalbaye digulingkan dan dibunuh pada tahun 1975,[27] tetapi pemberontakan tetap berlanjut. Pada tahun 1979, faksi-faksi pemberontak yang dipimpin oleh Hissène Habré merebut ibu kota, dan seluruh otoritas pusat di negara itu runtuh. Faksi-faksi bersenjata, banyak di antaranya berasal dari pemberontakan di utara, saling berebut kekuasaan.[28][29]

Perang saudara pertama (1979–1987)

[sunting | sunting sumber]

Runtuhnya kekuasaan di Cad menyebabkan posisi Prancis di negara itu ikut melemah. Libya mengambil kesempatan untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan terlibat dalam perang saudara di Cad.[30] Rencana Libya berakhir dengan bencana pada tahun 1987; Presiden Hissène Habré, yang didukung oleh Prancis, memicu respons persatuan dari rakyat Cad yang belum pernah terjadi sebelumnya[31] dan berhasil memaksa tentara Libya mundur dari wilayah Cad.[32]

Kediktatoran Habré (1987–1990)

[sunting | sunting sumber]

Habré mengonsolidasikan kediktatorannya melalui sistem kekuasaan yang bergantung pada korupsi dan kekerasan, dengan ribuan orang diperkirakan tewas selama masa pemerintahannya.[33][34] Presiden Habré memihak kelompok etnisnya sendiri, yaitu Toubou, dan mendiskriminasi mantan sekutunya, suku Zaghawa. Jenderalnya, Idriss Déby, menggulingkannya pada tahun 1990.[35] Upaya untuk mengadili Habré menyebabkan ia dikenai tahanan rumah di Senegal pada tahun 2005; pada tahun 2013, ia secara resmi didakwa atas kejahatan perang yang dilakukan selama masa kekuasaannya.[36] Pada Mei 2016, ia dinyatakan bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pemerkosaan, perbudakan seksual, dan perintah pembunuhan terhadap 40.000 orang, serta dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.[37]

Keluarga Déby, demokrasi dan perang saudara kedua (1990–sekarang)

[sunting | sunting sumber]
Idriss Déby, memerintah Cad dari tahun 1990 hingga kematiannya pada tahun 2021.

Déby berupaya mendamaikan kelompok-kelompok pemberontak dan mengembalikan sistem politik multipartai. Masyarakat Cad menyetujui konstitusi baru melalui referendum, dan pada tahun 1996, Déby dengan mudah memenangkan pemilihan presiden yang bersifat kompetitif. Ia kembali terpilih untuk masa jabatan kedua lima tahun kemudian.[38] Eksploitasi minyak dimulai di Cad pada tahun 2003, yang sempat menimbulkan harapan bahwa negara ini akhirnya akan memperoleh kedamaian dan kemakmuran. Namun, justru ketidakpuasan internal semakin memburuk, dan perang saudara baru pun pecah. Déby secara sepihak mengubah konstitusi untuk menghapus batas dua masa jabatan presiden; hal ini memicu kemarahan dari masyarakat sipil dan partai-partai oposisi.[39]

Pada tahun 2006, Déby memenangkan masa jabatan ketiga dalam pemilu yang diboikot oleh pihak oposisi. Kekerasan antar etnis di Cad bagian timur meningkat; Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi memperingatkan bahwa genosida seperti di Darfur bisa saja terjadi di Cad.[40] Pada tahun 2006 dan 2008, pasukan pemberontak mencoba merebut ibu kota dengan kekuatan senjata, tetapi gagal dalam kedua upaya tersebut.[41] Kesepakatan untuk memulihkan hubungan antara Cad dan Sudan, yang ditandatangani pada 15 Januari 2010, menandai berakhirnya perang selama lima tahun.[42] Perbaikan hubungan ini menyebabkan para pemberontak Cad yang sebelumnya berbasis di Sudan kembali ke negara asal, perbatasan kedua negara dibuka kembali setelah tujuh tahun ditutup, dan pasukan gabungan dikerahkan untuk mengamankan perbatasan. Pada Mei 2013, pasukan keamanan Cad berhasil menggagalkan kudeta terhadap Presiden Idriss Déby yang telah dipersiapkan selama beberapa bulan.[43]

Cad menjadi salah satu mitra utama dalam koalisi Afrika Barat dalam memerangi Boko Haram dan militan Islam lainnya.[44] Militer Cad mengumumkan kematian Déby pada 20 April 2021, menyusul serangan kelompok FACT di wilayah utara, di mana presiden tewas dalam pertempuran di garis depan.[44] Putranya, Jenderal Mahamat Idriss Déby, ditunjuk sebagai presiden sementara oleh Dewan Transisi yang terdiri dari perwira militer. Dewan transisi tersebut menggantikan konstitusi dengan piagam baru yang memberikan kekuasaan presiden kepada Mahamat Déby dan menobatkannya sebagai kepala angkatan bersenjata.[12] Pada 23 Mei 2024, Mahamat Idriss Déby dilantik sebagai Presiden Cad setelah pemilu tanggal 6 Mei yang menuai sengketa.[45]

Peta Cad

Cad merupakan negara besar yang terkurung daratan dan membentang di Afrika tengah-utara. Negara ini memiliki luas wilayah sebesar 1.284.000 kilometer persegi,[5] terletak di antara garis lintang 7° hingga 24° LU dan garis bujur 13° hingga 24° BT, menjadikannya negara terbesar ke-20 di dunia. Secara ukuran, Cad sedikit lebih kecil dari Peru dan sedikit lebih besar dari Afrika Selatan.[46][47]

Cad berbatasan di utara dengan Libya, di timur dengan Sudan, di barat dengan Niger, Nigeria, dan Kamerun, serta di selatan dengan Republik Afrika Tengah. Ibu kotanya, N'Djamena, berjarak sekitar 1.060 kilometer dari pelabuhan laut terdekat, yaitu Douala di Kamerun.[48][49] Karena jaraknya yang jauh dari laut serta iklimnya yang sebagian besar berupa gurun, Cad kadang disebut sebagai "Jantung Mati Afrika".[50]

Struktur fisik utama negara ini adalah cekungan luas yang dibatasi di utara dan timur oleh Dataran Tinggi Ennedi dan Pegunungan Tibesti, yang mencakup Emi Koussi, sebuah gunung berapi tidak aktif yang mencapai ketinggian 3.414 meter di atas permukaan laut. Danau Chad, yang menjadi asal nama negara ini (yang berasal dari kata Kanuri yang berarti "danau"),[51] merupakan sisa dari danau raksasa yang 7.000 tahun lalu menutupi wilayah seluas 330.000 kilometer persegi di Cekungan Chad.[48] Meskipun pada abad ke-21 luas permukaannya hanya sekitar 17.806 kilometer persegi dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi musiman,[52] danau ini tetap menjadi lahan basah terbesar kedua di Afrika.[53]

Peta satelit Cad

Cad merupakan rumah bagi enam ekoregion daratan, yaitu sabana Sudan Timur, sabana Akasia Sahel, sabana tergenang Danau Chad, hutan kering pegunungan Sahara Timur, stepa dan hutan Sahara Selatan, serta hutan kering pegunungan Tibesti–Jebel Uweinat.[54] Padang rumput tinggi dan rawa-rawa luas di kawasan ini menjadikannya habitat yang mendukung bagi burung, reptil, dan mamalia besar. Sungai-sungai utama di Cad—yaitu Chari, Logone, dan anak-anak sungainya—mengalir melalui sabana di selatan dari arah tenggara menuju Danau Cad.[48][55]

Setiap tahun, sistem cuaca tropis yang dikenal sebagai Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis melintasi Cad dari selatan ke utara, membawa musim hujan yang berlangsung dari Mei hingga Oktober di selatan, dan dari Juni hingga September di wilayah Sahel.[56] Variasi curah hujan lokal menciptakan tiga zona geografis utama. Sahara terletak di sepertiga bagian utara negara ini. Curah hujan tahunan di wilayah ini berada di bawah 50 milimeter; hanya ada kebun-kebun kurma yang tumbuh secara alami dan sporadis, semuanya berada di selatan garis balik utara.[49]

Sahara kemudian beralih ke sabuk Sahel di bagian tengah Cad; curah hujan tahunan di sini berkisar antara 300 hingga 600 mm. Di Sahel, stepa yang didominasi semak berduri (terutama akasia) secara bertahap berubah ke arah selatan menjadi sabana Sudan Timur di zona Sudan Cad. Curah hujan tahunan di zona ini melebihi 900 mm.[49]

Mahamat Déby, Presiden Cad saat ini.

Politik Cad berlangsung dalam kerangka republik semi-presidensial, dengan penekanan kuat pada jabatan presiden.[57] Presiden Cad bertindak sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh pemerintah. Kekuasaan legislatif berada di tangan pemerintah dan parlemen.[58]

Setelah kematian Presiden Idriss Déby pada tahun 2021, kekuasaan diambil alih oleh anaknya Mahamat Déby yang membubarkan Majelis Nasional dan Pemerintahan Cad serta digantikan oleh Dewan Militer Transisi.[59][60][61] Konstitusi baru disahkan melalui referendum pada 17 Desember 2023 yang menjadi dasar pemilihan umum 6 Mei 2024.[62][63] Mahamat Déby memenangkan pemilihan tersebut dengan memperoleh 61 persen suara,[45] menandai perpanjangan 34 tahun pemerintahan keluarga Déby.[64][65][66]

Pada tahun 2024, konstitusi baru Cad menyediakan badan legislatif bikameral yang terdiri dari Senat dan Majelis Nasional.[67] Senat memiliki 69 anggota, 23 di antaranya ditunjuk oleh presiden, dan sisanya dipilih secara tidak langsung oleh dewan elektoral yang terdiri dari anggota dewan provinsi dan komunal. Para senator memiliki masa jabatan enam tahun, dan sepertiga dari mereka dipilih setiap dua tahun.[68][69] Sedangkan Majelis Nasional terdiri dari 188 anggota yang dipilih secara langsung.[70]

Hubungan luar negeri

[sunting | sunting sumber]
Negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Cad
Menlu Cad dan menlu Estonia saat meresmikan hubungan diplomatik, 2018.

Sebelum masa transisi, Cad memiliki hubungan dekat dengan Prancis, bekas kekuatan kolonialnya. Prancis merupakan pemberi bantuan dan pelindung asing terpenting bagi Cad selama tiga dekade pertama setelah kemerdekaannya pada tahun 1960.[71] Walaupun hubungan tersebut sempat memburuk pada tahun 1999, akibat Cad memberikan hak pengeboran minyak kepada perusahaan Amerika Serikat Exxon,[72] Prancis tetap menjadi kekuatan asing utama yang memberikan bantuan militer pada pemerintah Cad dalam melawan para pemberontak.[73] Setelah Mahamat Déby mengambil alih kekuasaan, ia mulai mengkritik hubungan dengan Prancis, terutama dalam hal perjanjian pertahanan dan keamanan, yang ia anggap sudah usang serta mencerminkan hubungan yang tidak seimbang dan lebih menguntungkan pihak Prancis.[74] Pada tahun 2025, militer Prancis menyerahkan pangkalan terakhirnya di Cad kepada militer Cad, mengakhiri kehadirannya di negara tersebut.[75]

Hubungan dengan negara tetangga Libya dan Sudan berubah secara berkala. Cad pernah berperang dengan Libya memperebutkan Jalur Aouzou, yang akhirnya dimenangkan Cad melalui putusan Mahkamah Internasional pada 1994.[76] Hubungan dengan Sudan juga mengalami ketegangan, terutama karena konflik Darfur dan dukungan timbal balik terhadap kelompok pemberontak. Meskipun sempat membaik lewat perjanjian damai pada 2010,[77] perang saudara di Sudan yang meletus kembali pada 2023 menimbulkan tekanan baru bagi Cad, terutama dalam menangani arus pengungsi.[78]

Menlu Cad dan menlu AS saat bertemu di N’Djamena, 2018.

Meskipun memiliki ikatan budaya yang panjang dengan Dunia Arab, pada tahun 1980-an Pemerintah Cad hanya menjalin sedikit hubungan signifikan dengan negara-negara Arab di Afrika Utara atau Asia Barat. Pada September 1972, Cad memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel di bawah kepemimpinan Presiden François Tombalbaye dan berupaya menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Arab sebagai cara untuk melepaskan Cad dari ketergantungan pascakolonial terhadap Prancis.[79] Pada tahun 1988, Cad mengakui Negara Palestina, yang kemudian membuka misi diplomatik di N'Djamena.[80] Pada November 2018, Presiden Idriss Déby mengunjungi Israel dan mengumumkan niatnya untuk memulihkan hubungan diplomatik yang direalisasikan pada Januari 2019.[81][82]

Dengan Indonesia, Cad telah menjalin hubungan diplomatik sejak 22 September 2016.[83] Kedua negara tidak memiliki kedutaan di masing-masing ibu kota negara. Misi diplomatik Indonesia diwakili oleh kedutaan Yaoundé, Kamerun;[84] sedangkan Cad melalui perwakilan non-residen seperti kedutaan Cad di New Delhi, India.

Cad berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional di antaranya Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Buruh Internasional (ILO), Uni Afrika (AU), Komunitas Ekonomi dan Moneter Afrika Tengah (CEMAC), Bank Pembangunan Afrika, Organisasi Kerjasama Islam dan lainnya.

Tentara Cad dalam latihan Flintlock 2020 di Mauritania, yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat.

Angkatan Bersenjata Cad adalah pasukan bersenjata di negara tersebut. Pada tahun 2024, Cad diperkirakan memiliki 33.250 personel militer aktif, yang terdiri dari 27.500 di Angkatan Darat, 350 di Angkatan Udara, dan 5.400 di Direktorat Jenderal Keamanan Lembaga Negara (DGSSIE). Selain itu, terdapat 4.500 personel di Gendarmerie Nasional dan 7.400 di Garda Nasional dan Nomaden. Angkatan Darat terbagi dalam tujuh wilayah militer dan dua belas batalion, yang mencakup satu batalion lapis baja, tujuh infanteri, satu artileri, dan tiga logistik. Cad merupakan anggota G5 Sahel dan Pasukan Gabungan Multinasional, yang dibentuk untuk memerangi kelompok militan Islam di kawasan tersebut.[85] Cad juga pernah mengirim pasukan untuk misi MINUSMA di Mali, sebelum misi tersebut dibubarkan. Pada tahun terakhir keikutsertaannya pada 2023, Cad mengerahkan 1.449 tentara di sana. Selama bertahun-tahun, Prancis menjadi mitra keamanan utama Cad, termasuk dalam pelatihan militer, tetapi kerja sama militer dengan Prancis diakhiri oleh Cad pada 2024.[86][87]

Menurut CIA World Factbook, anggaran militer Cad diperkirakan mencapai 4,2% dari PDB pada tahun 2006.[88] Dengan PDB saat itu sebesar $7,095 miliar, pengeluaran militer diperkirakan sekitar $300 juta. Namun, angka ini menurun setelah berakhirnya perang saudara Cad (2005–2010), dan pada tahun 2011, Bank Dunia memperkirakan proporsi anggaran militer menjadi sekitar 2,0% dari PDB.[89]

Pembagian administratif

[sunting | sunting sumber]
Provinsi di Cad.

Sejak tahun 2018, Cad terbagi menjadi 23 provinsi. Pembagian wilayah ini berasal dari reformasi pada tahun 2003 sebagai bagian dari proses desentralisasi, ketika pemerintah menghapus 14 prefektur lama dan menggantinya dengan wilayah administratif yang disebut region. Namun, pada 2018, nama wilayah tersebut secara resmi diubah menjadi provinsi.[90] Setiap provinsi dipimpin oleh seorang gubernur yang ditunjuk langsung oleh presiden. Di bawah tingkat provinsi terdapat 120 departemen yang dikelola oleh para prefek, dan departemen ini dibagi lagi menjadi 454 sub-prefektur.[91]

Konstitusi Cad menetapkan pemerintahan yang terdesentralisasi guna mendorong partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pembangunan wilayah mereka sendiri.[92] Untuk mewujudkannya, konstitusi menyatakan bahwa setiap satuan administratif harus dipimpin oleh majelis lokal yang dipilih melalui pemilu.[93] Namun, hingga kini belum pernah dilaksanakan pemilihan lokal, dan pemilu tingkat komunal yang dijadwalkan pada tahun 2005 telah berulang kali ditunda.[94][95]

No.ProvinsiPopulasi
(2009)
Populasi

(1 Juli 2023)

Est. Area
(km2)
Ibu kotaDepartemen
1Batha488.458748.39593.732AtiBatha Est, Batha Ouest, Fitri, Ouadi-Rimé, Assinet, Haraze
2Bahr el-Gazel257.267407.25658.525MoussoroBarh el-Gazel Nord, Barh el-Gazel Sud, Barh el-Gazel Ouest, Barh el-Gazel Est, Kleta
3Borkou93.584154.865271.513FayaBorkou, Borkou-Yala, Kouba
4Ouaddaï721.1661.102.46730.790AbéchéOuara, Abougoudam, Djourf Al Ahmar, Assongha
5Wadi Fira508.383792.39456.362BiltineBiltine, Dar-Tama, Mégri, Iriba, Al-Biher, Dar-Alfawakih, Tiné
6Mayo-Kebbi Est774.7821.179.26018.458BongorMayo-Boneye, Mayo-Lémié, Mont-Illi, Kabbia
7Logone Oriental779.3391.184.56724.119DobaLa Pendé, La Nya, La Nya-Pendé, Kouh-Est, Kouh-Ouest, Monts de Lam
8Ennedi-Est107.302175.32181.696AmdjarassAmdjarass, Wadi Hawar, Itou, Nohi, Bao, Mourdi
9Guéra538.359824.16162.678MongoGuéra, Abtouyour, Barh-Signaka, Mangalmé, Garada
10Mayo-Kebbi Ouest564.470858.59312.787PalaMayo-Dallah, Mayo-Binder, Lac-Léré, El-Ouaya, Nanaye
11Logone Occidental689.0441.053.9588.969MoundouLac-Wey, Guéni, Ngourkosso, Dodjé
12Ennedi-Ouest60.617109.753117.686FadaFada, Mourtcha, Lac-Ounianga, Tebi, Gouro, Torbol
13Kanem333.387505.83970.516MaoKanem-Centre, Kanem-Nord, Kanem-Sud, Kanem-Est, Kanem-Ouest
14Lac331.496509.25820.543BolMamdi, Wayi, Kaya, Fouli, Kouloukime
15Mandoul628.0651.002.34617.761KoumraBarh-Sara, Mandoul Occidental, Mandoul Oriental, Goundi, Taralnass, Mandoul Central
16N'Djamena (ibu kota)951.4181.434.592408N'Djamena10 dawāʾir atau distrik
17Salamat302.301470.25669.631Am TimanBarh-Azoum, Aboudeïa, Haraze-Mangueigne
18Sila387.461591.30036.745Goz BeïdaKimiti, Abdi, Tissi, Adé, Koukou-Angarana
19Moyen-Chari588.008902.31142.307SarhBarh-Kôh, Grande Sido, Lac-Iro, Korbol, La Moula, Bragoto
20Tandjilé661.9061.007.81217.891LaïTandjilé-Est, Tandjilé-Centre, Tandjilé-Ouest, Manga, Manbagué
21Tibesti25.48352.626135.896BardaïBardaï, Zouar, Wour, Aouzou, Emi-Koussi, Zoumri
22Chari-Baguirmi578.425884.92447.226MassenyaBaguirmi, Chari, Loug-Chari, Dourbali
23Hadjer-Lamis566.858870.23131.376MassakoryDagana, Dababa Haraz-al-Biar, Ngoura
Representasi proporsional ekspor Cad, 2019.
Perkembangan PDB per kapita Cad, sejak 1950

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan Cad sebagai negara termiskin ketujuh di dunia, dengan sekitar 80% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita berdasarkan paritas daya beli diperkirakan sebesar US$1.651 pada tahun 2009.[96] Cad merupakan anggota Bank Sentral Negara-Negara Afrika Tengah, Uni Bea Cukai dan Ekonomi Afrika Tengah (UDEAC), serta Organisasi untuk Harmonisasi Hukum Bisnis di Afrika (OHADA).[97]

Mata uang Cad adalah franc CFA. Pada 1960-an, industri pertambangan Cad menghasilkan natrium karbonat (natron), dan pernah dilaporkan adanya kandungan kuarsa yang mengandung emas di Prefektur Biltine. Namun, bertahun-tahun konflik sipil menyebabkan para investor asing meninggalkan negara tersebut; para investor yang hengkang antara 1979 hingga 1982 baru mulai kembali menunjukkan kepercayaan terhadap masa depan Cad. Pada tahun 2000, investasi asing langsung berskala besar mulai masuk ke sektor minyak, yang memberikan dorongan bagi prospek ekonomi Cad.[1][98]

Keterlibatan Cad yang timpang dalam ekonomi politik global sebagai lokasi eksploitasi sumber daya kolonial—terutama kapas dan minyak mentah—didukung oleh sistem ekonomi dunia yang tidak mendorong industrialisasi di Cad maupun mendukung produksi pertanian lokal.[99] Hal ini menyebabkan sebagian besar penduduk Cad hidup dalam ketidakpastian dan kelaparan setiap hari.[100][101] Lebih dari 80% penduduk Cad bergantung pada pertanian subsisten dan peternakan sebagai sumber penghidupan.[1] Jenis tanaman yang ditanam dan lokasi penggembalaan ternak sangat bergantung pada kondisi iklim setempat. Wilayah paling subur berada di 10% bagian paling selatan negara, dengan hasil pertanian utama berupa sorgum dan millet. Di wilayah Sahel, hanya varietas millet yang lebih tahan kering yang bisa tumbuh, dan hasilnya jauh lebih rendah dibandingkan wilayah selatan. Namun, Sahel sangat cocok sebagai padang penggembalaan bagi kawanan besar ternak komersial seperti sapi, kambing, domba, keledai, dan kuda. Sementara itu, oase di Sahara hanya mendukung pertanian terbatas seperti kurma dan kacang-kacangan.[14] Kota-kota di Cad menghadapi krisis infrastruktur serius; hanya 48% penduduk perkotaan yang memiliki akses air bersih, dan hanya 2% yang memiliki akses ke sanitasi dasar.[48][102]

Sebuah pasar di N'djamena.

Sebelum berkembangnya industri minyak, kapas menjadi sektor dominan dalam industri dan pasar tenaga kerja, menyumbang sekitar 80% dari pendapatan ekspor.[103] Meskipun kini tidak ada data pasti, kapas tetap menjadi salah satu komoditas ekspor utama. Perusahaan kapas utama negara, CotontCad, sempat melemah akibat turunnya harga kapas dunia, tetapi upaya pemulihannya dibiayai oleh Prancis, Belanda, Uni Eropa, dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD). Perusahaan milik negara ini kini direncanakan untuk diprivatisasi.[98] Selain kapas, komoditas ekspor utama lainnya adalah ternak dan getah arab.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Cad telah mengalami krisis kemanusiaan setidaknya sejak tahun 2001. Pada 2008, Cad menampung lebih dari 280.000 pengungsi dari wilayah Darfur di Sudan, lebih dari 55.000 pengungsi dari Republik Afrika Tengah, serta sekitar 170.000 orang yang mengungsi di dalam negeri.[104] Pada 2023, diperkirakan 700.000 hingga satu juta orang Sudan melarikan diri ke Cad akibat perang saudara yang sedang berlangsung.[78]

Pada Februari 2008, pasca Pertempuran N'Djamena, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, John Holmes, menyatakan keprihatinan mendalam bahwa krisis tersebut dapat menghambat upaya pemberian bantuan kemanusiaan kepada sekitar setengah juta orang yang sangat bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.[105] Juru bicara PBB, Maurizio Giuliano, mengatakan kepada The Washington Post bahwa jika bantuan tidak dapat diberikan secara memadai, krisis kemanusiaan ini dapat berubah menjadi bencana besar.[106] Selain itu, organisasi seperti Save the Children menghentikan kegiatannya karena terjadinya pembunuhan terhadap pekerja bantuan kemanusiaan.[107]

Meskipun Cad telah mencatat kemajuan dalam pengurangan kemiskinan, dengan penurunan angka kemiskinan nasional dari 55% menjadi 47% antara tahun 2003 dan 2011, jumlah penduduk miskin secara absolut justru meningkat dari 4,7 juta pada 2011 menjadi 6,5 juta pada 2019. Pada 2018, sekitar 4 dari 10 orang di Cad masih hidup di bawah garis kemiskinan.[108]

Demografi

[sunting | sunting sumber]
Suku nomaden Toubou di Pegunungan Ennedi.

Badan statistik nasional Cad memperkirakan jumlah penduduk negara tersebut pada tahun 2015 berada antara 13.630.252 hingga 13.679.203 jiwa, dengan proyeksi tengah sebesar 13.670.084 jiwa. Berdasarkan proyeksi tersebut, sekitar 3,2 juta orang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih dari 10,4 juta orang tinggal di pedesaan.[109] Penduduk Cad tergolong muda, dengan sekitar 47% berusia di bawah 15 tahun. Angka kelahiran diperkirakan mencapai 42,35 kelahiran per 1.000 penduduk, sedangkan angka kematian 16,69 per 1.000. Harapan hidup rata-rata hanya sekitar 52 tahun.[110] Pada pertengahan 2017, jumlah penduduk Cad diperkirakan mencapai 15.775.400 jiwa, dengan lebih dari 1,5 juta tinggal di ibu kota N'Djaména.

Sebaran penduduk Cad sangat tidak merata. Kepadatan penduduk di wilayah gurun Borkou-Ennedi-Tibesti hanya 0,1 jiwa/km², sedangkan di wilayah Logone Occidental mencapai 52,4 jiwa/km². Di ibu kota, angka ini jauh lebih tinggi.[49] Sekitar setengah dari populasi Cad tinggal di wilayah selatan yang hanya mencakup seperlima luas negara, menjadikannya daerah dengan kepadatan tertinggi.[111]

Kehidupan perkotaan terkonsentrasi di ibu kota N'Djaména, yang sebagian besar penduduknya bergerak di bidang perdagangan. Kota-kota besar lainnya seperti Sarh, Moundou, Abéché, dan Doba berukuran lebih kecil, tetapi mengalami pertumbuhan pesat baik dalam jumlah penduduk maupun aktivitas ekonomi.[48] Sejak 2003, lebih dari 700.000 pengungsi Sudan melarikan diri ke Cad akibat perang. Dengan 172.600 warga Cad yang mengungsi akibat perang saudara di wilayah timur, hal ini telah meningkatkan ketegangan di antara masyarakat di wilayah tersebut.[78][112][113]

Grafik pertumbuhan penduduk Cad oleh Our World in Data tahun 2022; Jumlah penduduk dalam juta.

Poligami umum dijumpai di Cad; 39% perempuan hidup dalam pernikahan poligami. Praktik ini diizinkan secara hukum, kecuali jika ditolak secara eksplisit oleh pasangan saat menikah.[114] Meskipun kekerasan terhadap perempuan dilarang, kekerasan dalam rumah tangga tetap sering terjadi. Mutilasi genital perempuan juga dilarang, tetapi praktik ini masih meluas dan mengakar secara budaya. Sekitar 45% perempuan di Cad mengalami praktik tersebut, dengan tingkat tertinggi di antara etnis Arab, Hadjarai, dan Ouaddaian (lebih dari 90%). Tingkat terendah tercatat di antara etnis Sara (38%) dan Toubou (2%). Perempuan juga menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, yang menyulitkan mereka untuk bersaing dalam sektor pekerjaan formal yang terbatas. Meskipun hukum waris dan kepemilikan properti berdasarkan sistem hukum Prancis tidak mendiskriminasi perempuan, keputusan warisan biasanya ditentukan oleh pemimpin adat yang cenderung memihak laki-laki sesuai praktik tradisional.[95]

Kelompok etnis

[sunting | sunting sumber]

Penduduk Cad memiliki asal-usul yang beragam, mencerminkan warisan leluhur dari Afrika Timur, Tengah, Barat, dan Utara.[115] Cad dihuni oleh lebih dari 200 kelompok etnis yang berbeda,[98] membentuk struktur sosial yang sangat beragam. Meskipun pemerintahan kolonial maupun pemerintah setelah kemerdekaan telah berusaha membentuk masyarakat nasional yang terpadu, bagi sebagian besar warga Cad, ikatan lokal atau regional tetap menjadi pengaruh sosial terpenting setelah keluarga inti. Meski demikian, masyarakat Cad dapat diklasifikasikan berdasarkan wilayah geografis tempat mereka tinggal.[14][48]

Di wilayah selatan, masyarakatnya umumnya menetap, seperti etnis Sara yang merupakan kelompok etnis terbesar di negara ini, dengan garis keturunan sebagai unit sosial utama. Di wilayah Sahel, kelompok masyarakat menetap hidup berdampingan dengan kelompok nomaden, seperti etnis Arab yang merupakan kelompok etnis terbesar kedua. Sementara itu, wilayah utara didominasi oleh penduduk nomaden, terutama dari kelompok Toubou.[14][48]

Bahasa resmi Cad adalah Arab dan Prancis,[116] tetapi lebih dari 100 bahasa digunakan di seluruh negeri. Cabang bahasa Cadik dari rumpun bahasa Afroasiatik mengambil namanya dari Cad, dan mencakup puluhan bahasa yang berasal dari negara ini. Cad juga merupakan rumah bagi bahasa-bahasa dari rumpun Sudanik Tengah, Maban, serta beberapa bahasa dari keluarga Niger-Kongo.

Karena peran penting yang dimainkan oleh para pedagang Arab keliling dan saudagar yang menetap di komunitas lokal, Bahasa Arab Cad telah berkembang menjadi bahasa pengantar yang umum digunakan.[14] Bahasa dengan penutur bahasa ibu terbanyak mungkin adalah Ngambay, dengan sekitar satu juta penutur.[117]

Cad merupakan negara dengan agama yang beragam. Berbagai perkiraan, termasuk dari Pew Research pada tahun 2010, menemukan bahwa 52–58% penduduknya beragama Islam, sementara 39–44% beragama Kristen, dengan 22% beragama Katolik dan 17% beragama Protestan.[8][118][119]

Agama di Chad

  Islam (55.1%)
  Kristen (41.1%)
  Tidak beragama (2.4%)
  Animisme (4%)
  Lainnya (0.1%)

Islam di Cad diekspresikan dalam berbagai bentuk; sekitar 55% umat Muslim di negara ini tergabung dalam tarekat-tarekat sufi. Bentuk yang paling umum adalah Tarekat Tijaniyah, yang dianut oleh sekitar 35% Muslim Cad dan menggabungkan unsur-unsur kepercayaan Afrika setempat.[120] Pada tahun 2020, Asosiasi Arsip Data Agama (ARDA) memperkirakan bahwa mayoritas besar Muslim Cad adalah Sunni yang tergabung dalam tarekat sufi Tijaniyah.[121] Sebagian kecil umat Muslim di negara ini (sekitar 5–10%) menganut praktik yang lebih fundamentalis, yang dalam beberapa kasus dikaitkan dengan gerakan Salafi yang berorientasi pada Arab Saudi.[121][122]

Gereja Katolik Roma merupakan denominasi Kristen terbesar di Cad.[121] Sebagian besar umat Protestan, termasuk kelompok seperti "Winners' Chapel" yang berbasis di Nigeria, tergabung dalam berbagai aliran Kristen evangelikal. Agama Kristen masuk ke Cad melalui misionaris Prancis dan Amerika; sebagaimana Islam di Cad, agama ini juga mengalami sinkretisme dengan unsur-unsur kepercayaan pra-Kristen yang telah ada sebelumnya.[14][122][123]

Komunitas agama Baháʼí dan Saksi-Saksi Yehuwa juga hadir di negara ini. Kedua agama tersebut masuk ke Cad setelah kemerdekaan pada tahun 1960, dan karena itu dianggap sebagai agama "baru" di negara ini.[122][123] Sebagian kecil penduduk masih mempraktikkan agama-agama asli. Animisme di Cad mencakup beragam kepercayaan yang berorientasi pada leluhur dan tempat-tempat suci, dengan bentuk praktik yang sangat spesifik.[14]

Seorang penjahit Cad menjual pakaian tradisional.

Karena keragaman etnis dan bahasanya yang besar, Cad memiliki warisan budaya yang kaya. Pemerintah Cad secara aktif mempromosikan budaya dan tradisi nasional dengan mendirikan Museum Nasional Cad dan Pusat Kebudayaan Cad.[48] Enam hari libur nasional diperingati setiap tahun, ditambah hari-hari libur keagamaan yang tanggalnya berubah-ubah, seperti Senin Paskah dalam tradisi Kristen, serta Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi dalam tradisi Islam.[124]

Kisra yang dibuat dengan saus millet dan okra

Millet merupakan makanan pokok dalam kuliner Cad. Bahan ini digunakan untuk membuat adonan berbentuk bola yang kemudian dicelupkan ke dalam saus. Di wilayah utara, hidangan ini dikenal sebagai alysh, sementara di selatan disebut biya. Ikan juga sangat digemari, biasanya disiapkan dan dijual dalam bentuk salanga (ikan Alestes dan Hydrocynus yang dikeringkan di bawah sinar matahari dan diasap ringan) atau banda (ikan besar yang diasap).[125] Carcaje adalah teh manis berwarna merah yang populer, dibuat dari seduhan daun kembang sepatu. Minuman beralkohol, meskipun tidak ditemukan di wilayah utara, cukup umum di selatan, di mana masyarakat setempat meminum bir millet yang disebut billi-billi jika dibuat dari millet merah, dan coshate jika berasal dari millet putih.[126]

Musik Cad melibatkan berbagai jenis alat musik tradisional, seperti kinde (sejenis harpa busur), kakaki (terompet panjang dari logam tipis), dan hu hu (alat musik berdawai yang menggunakan labu sebagai pengeras suara). Beberapa alat musik dan kombinasinya berkaitan erat dengan kelompok etnis tertentu: etnis Sara, misalnya, menggunakan peluit, balafon, harpa, dan drum kodjo, sementara Kanembu menggabungkan suara drum dengan alat musik tiup mirip seruling.[126]

Grup musik Chari Jazz yang dibentuk pada tahun 1964 menjadi pelopor musik modern di Cad. Kemudian muncul kelompok terkenal lainnya seperti African Melody dan International Challal yang mencoba memadukan unsur modern dengan tradisi. Grup populer seperti Tibesti tetap setia pada warisan budaya mereka dengan mengangkat gaya musik tradisional sai dari Cad selatan. Masyarakat Cad secara tradisional kurang menghargai musik modern, tetapi sejak tahun 1995 mulai tumbuh minat yang lebih besar terhadap musik lokal, yang mendorong penyebaran CD dan kaset audio berisi karya para artis Cad. Meski demikian, pembajakan dan minimnya perlindungan hukum atas hak-hak seniman masih menjadi hambatan utama bagi perkembangan industri musik di negara ini.[126][127]

Sepak bola merupakan olahraga paling populer di Cad.[128] Tim nasional negara ini selalu menjadi perhatian masyarakat saat mengikuti kompetisi internasional, dan beberapa pemain sepak bola asal Cad pernah bermain untuk tim-tim di Prancis. Bola basket dan gulat gaya bebas juga banyak dimainkan, dengan gulat gaya bebas dilakukan dalam bentuk tradisional di mana para pegulat mengenakan kulit binatang dan menutupi tubuh mereka dengan debu.[126]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. /æd/ simak CHAD
    • bahasa Arab: تشاد, translit. Tšād, pelafalan dalam bahasa Arab: [tʃaːd]
    • bahasa Prancis: Tchad, pelafalan [tʃa(d)]
    • bahasa Arab: جمهورية تْشَاد, translit. Jumhūriyyat Tšād
    • bahasa Prancis: République du Tchad

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Explore all countries–Chad". World Fact Book. Diakses tanggal 24 Oktober 2022.
  2. 1 2 3 4 "Chad". International Monetary Fund.
  3. "Gini Index". World Bank. Diakses tanggal 15 July 2022.
  4. "Human Development Report 2021/2022" (PDF) (dalam bahasa Inggris). United Nations Development Programme. 8 September 2022. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-10-09. Diakses tanggal 30 September 2022.
  5. 1 2 "Le TCHAD en bref" (dalam bahasa Prancis). INSEED. 22 July 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 22 December 2015. Diakses tanggal 18 December 2015.
  6. "Glottolog 4.8 – Languages of Chad". glottolog.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 August 2023. Diakses tanggal 2023-08-15.
  7. "Religions in Chad | PEW-GRF". Diarsipkan dari asli tanggal 8 October 2022. Diakses tanggal 11 August 2022.
  8. 1 2 "Enquête Démographique et de Santé 1996–1997" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-10-09.
  9. "Chad's authoritarian Deby unwilling to quit". Deutsche Welle (dalam bahasa Inggris (Britania)). 8 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 November 2020. Diakses tanggal 4 August 2020.
  10. Haynes, Suyin (28 March 2019). "This African Country Has Had a Yearlong Ban on Social Media. Here's What's Behind the Blackout". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 August 2020. Diakses tanggal 4 August 2020.
  11. Werman, Marco (5 June 2012). "ExxonMobil and Chad's Authoritarian Regime: An 'Unholy Bargain'". The World. Public Radio International. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 October 2020. Diakses tanggal 4 August 2020.
  12. 1 2 Ramadane, Madjiasra Nako, Mahamat (21 April 2021). "Chad in turmoil after Deby death as rebels, opposition challenge military". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2021. Diakses tanggal 21 April 2021. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  13. Decalo, pp. 44–45
  14. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 S. Collelo, Chad
  15. D. Lange 1988
  16. Decalo, p. 6
  17. Decalo, pp. 7–8
  18. "Welcome to Encyclopædia Britannica's Guide to Black History". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari asli tanggal 6 October 2014. Diakses tanggal 29 August 2010.
  19. Decalo, pp. 8, 309
  20. 1 2 Decalo, pp. 8–9
  21. Lemarchand, René (1980). "The Politics of Sara Ethnicity : A Note on the Origins of the Civil War in Chad". Cahiers d'études africaines. 20 (80): 455–456. doi:10.3406/cea.1980.2328. Diakses tanggal 25 February 2025.
  22. Debos, Marielle (2009). "Chad 1900-1960" (PDF). Online Encyclopedia of Mass Violence. hlm. 8-9. Diakses tanggal 25 February 2025.
  23. Lanne, Bernard. Histoire politique du Tchad de 1945 à 1958. Administration, partis, élections. Paris: Karthala. hlm. 197-218. ISBN 9782865378838.
  24. Decalo, p. 53
  25. Decalo, pp. 248–249
  26. Nolutshungu, p. 17
  27. "Death of a Dictator", Time, (28 April 1975). Accessed on 3 September 2007.
  28. Decalo, pp. 12–16
  29. Nolutshungu, p. 268
  30. Nolutshungu, p. 150
  31. Nolutshungu, p. 230
  32. Pollack, Kenneth M. (2002); Arabs at War: Military Effectiveness, 1948–1991. Lincoln: University of Nebraska Press. ISBN 0-8032-3733-2, pp. 391–397
  33. Macedo, Stephen (2006); Universal Jurisdiction: National Courts and the Prosecution of Serious Crimes Under International Law. University of Pennsylvania Press. ISBN 0-8122-1950-3, pp. 133–134
  34. "Chad: the Habré Legacy" Diarsipkan 13 January 2015 di Wayback Machine.. Amnesty International. 16 October 2001.
  35. Nolutshungu, pp. 234–237
  36. "Chad ex-leader Habre charged in Senegal with war crimes". BBC. 2 July 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 July 2013. Diakses tanggal 2 July 2013.
  37. "Hissène Habré: Chad's ex-ruler convicted of crimes against humanity". BBC. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2018. Diakses tanggal 21 July 2018.
  38. East, Roger & Richard J. Thomas (2003); Profiles of People in Power: The World's Government Leaders. Routledge. ISBN 1-85743-126-X, p. 100
  39. IPS, "Le pétrole au cœur des nouveaux soubresauts au Tchad"
  40. Chad may face genocide, UN warns Diarsipkan 21 June 2022 di Wayback Machine.. BBC News, 16 February 2007
  41. "Chad's leader asserts he controls". USA Today. Associated Press. 6 February 2008.
  42. World Report 2011: Chad. Human Rights Watch. 24 January 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 28 August 2012. Diakses tanggal 6 June 2011.
  43. "Chad government foils coup attempt – minister". Reuters. 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 6 March 2016.
  44. 1 2 "Chad's president Idriss Déby dies 'in clashes with rebels'". BBC News. 20 April 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2021. Diakses tanggal 20 April 2021.
  45. 1 2 "Chad transitional ruler inaugurated amid legitimacy concerns". Voice of America (dalam bahasa Inggris). 23 May 2024.
  46. CIA, "Chad", 2009
  47. "Rank Order – Area Diarsipkan 9 February 2014 di Wayback Machine.". The World Factbook. United States Central Intelligence Agency.
  48. 1 2 3 4 5 6 7 8 "Chad". Encyclopædia Britannica. (2000)
  49. 1 2 3 4 "Chad Diarsipkan 29 September 2007 di Wayback Machine.". Human Rights Instruments. United Nations Commission on Human Rights. 12 December 1997.
  50. Botha, D.J.J. (December 1992). "S.H. Frankel: Reminiscences of an Economist (Review Article)". South African Journal of Economics. 60 (4): 246–255. doi:10.1111/j.1813-6982.1992.tb01049.x. ISSN 0038-2280.
  51. Kperogi, F.A. (2015) Glocal English: The Changing Face and Forms of Nigerian English in a Global World. Peter Lang, ISBN 978-1-4331-2926-1, p. 59.
  52. "Chad, Lake". Encyclopædia Britannica. (2000).
  53. Dinar, Ariel (1995); Restoring and Protecting the World's Lakes and Reservoirs. World Bank Publications. ISBN 0-8213-3321-6, p. 57
  54. Dinerstein, Eric; Olson, David; Joshi, Anup; Vynne, Carly; Burgess, Neil D.; Wikramanayake, Eric; Hahn, Nathan; Palminteri, Suzanne; Hedao, Prashant; Noss, Reed; Hansen, Matt; Locke, Harvey; Ellis, Erle C; Jones, Benjamin; Barber, Charles Victor; Hayes, Randy; Kormos, Cyril; Martin, Vance; Crist, Eileen; Sechrest, Wes; Price, Lori; Baillie, Jonathan E. M.; Weeden, Don; Suckling, Kierán; Davis, Crystal; Sizer, Nigel; Moore, Rebecca; Thau, David; Birch, Tanya; Potapov, Peter; Turubanova, Svetlana; Tyukavina, Alexandra; de Souza, Nadia; Pintea, Lilian; Brito, José C.; Llewellyn, Othman A.; Miller, Anthony G.; Patzelt, Annette; Ghazanfar, Shahina A.; Timberlake, Jonathan; Klöser, Heinz; Shennan-Farpón, Yara; Kindt, Roeland; Lillesø, Jens-Peter Barnekow; van Breugel, Paulo; Graudal, Lars; Voge, Maianna; Al-Shammari, Khalaf F.; Saleem, Muhammad (2017). "An Ecoregion-Based Approach to Protecting Half the Terrestrial Realm". BioScience. 67 (6): 534–545. doi:10.1093/biosci/bix014. ISSN 0006-3568. PMC 5451287. PMID 28608869.
  55. (dalam bahasa Prancis) Chapelle, Jean (1981) Le Peuple Tchadien: ses racines et sa vie quotidienne. Paris: L'Harmattan. ISBN 2-85802-169-4, pp. 10–16
  56. Decalo, p. 3
  57. "Chad: Supreme court approves 'yes' referendum vote". Africanews (dalam bahasa Inggris). 2023-12-29. Diakses tanggal 2023-12-31.
  58. "Chad: Government". Britannica Kids (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-27.
  59. "Chad President Idriss Deby dies on front lines, according to an army statement". Deutsche Welle. 20 April 2021. Diakses tanggal 20 April 2021.
  60. "Chad Sets Up Transitional Military Council Headed By Son Of Late President – Reports". UrduPoint (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-04-20.
  61. "Chad President Idriss Deby killed on frontline, son to take over". Thomas Reuters News. Reuters. April 20, 2021. Diakses tanggal April 20, 2021.
  62. "Chad's president delays elections and expands his powers". Deutsche Welle. 13 October 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 October 2022. Diakses tanggal 15 October 2022.
  63. "Chad Leaders Urge Civilians to Participate in Sunday's Constitutional Referendum". Voice of America (dalam bahasa Inggris). 2023-12-15. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-17.
  64. "Chad's Idriss Deby, a longstanding French ally in the troubled Sahel". France 24 (dalam bahasa Inggris). 20 April 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2021. Diakses tanggal 20 April 2021.
  65. Henningsen, Troels Burchall (15 September 2021). "Chad has a new roadmap: why it may lead to more of the same, and not democracy". The Conversation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 2022-01-23.
  66. "Will Chad be the next Western ally in Africa to fail?". The Economist. 2023-11-23. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2024. Diakses tanggal 2024-03-15.
  67. "assemblée-nationale.td - Historique". web.archive.org. 23 June 2022.
  68. "Tchad : 188 députés et 69 sénateurs pour la prochaine législature". Africa24 TV (dalam bahasa Prancis). 30 July 2024.
  69. Alwihda, Info. "Tchad : comment devenir Sénateur ?". Alwihda Info - Actualités TCHAD, Afrique, International (dalam bahasa Prancis).
  70. "National Assembly of Chad". IPU Parline: global data on national parliaments (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-27.
  71. "Liste chronologique des ambassadeurs, envoyes extraordinaires, ministres plenipotentiaires et charge d'affaires de France a l'etranger depuis 1945" (PDF). diplomatie.gouv.fr. Diakses tanggal 29 April 2023.
  72. Manley, Andrew; "Chad's vulnerable president Diarsipkan 19 February 2007 di Wayback Machine.", BBC News, 15 March 2006.
  73. Wolfe, Adam; "Instability on the March in Sudan, Chad and Central African Republic". Diarsipkan dari asli tanggal 5 January 2007. Diakses tanggal 19 June 2007., PINR, 6 December 2006.
  74. "Chad's Global Partnerships: From France to Russia and Beyond" (dalam bahasa Inggris). 2025-03-01. Diakses tanggal 2025-06-27.
  75. "Le Tchad rompt ses accords de défense avec la France, un camouflet pour Paris". www.lemonde.fr.
  76. G. Simons, p. 78
  77. Sudan, Chad agree to end proxy wars, Mail & Guardian, February 9, 2010
  78. 1 2 3 "How is the Sudanese civil war destabilising neighbouring countries?". UN News (dalam bahasa Inggris). 2025-04-14. Diakses tanggal 2025-06-27.
  79. Collelo, Thomas, ed. (1990). Chad: A Country Study. Washington, D.C.: Federal Research Division, Library of Congress. hlm. 160, 162–163, 167. ISBN 0-16-024770-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  80. "Diplomatic Relations". palestineun.org. Diarsipkan dari asli tanggal November 23, 2022. Diakses tanggal 2022-05-17.
  81. "Meeting Israeli leaders, Chad president says he wants to restore diplomatic ties". The Times of Israel.
  82. "Israel's PM Netanyahu signs deals with Chad's President Deby". January 20, 2019.
  83. "Joint Communique concerning the Establishment of Diplomatic Relations between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Chad" (PDF) (dalam bahasa Bahasa Indonesia and Prancis). 22 September 2016. Diakses tanggal 4 August 2023.
  84. Mediatama, Grahanusa (22 Juni 2020). "Indonesia membuka kedutaan besar untuk Republik Kamerun". kontan.co.id. Diakses tanggal 21 Oktober 2024.
  85. IISS (2024). The Military Balance 2024. London: Routledge. hlm. 481–482. ISBN 978-1-032-78004-7.
  86. IISS (2023). The Military Balance 2023. London: Routledge. hlm. 442–443. ISBN 978-1-032-50895-5.
  87. Njie, Paul (29 November 2024). "Chad cuts military agreement with France". BBC.
  88. CIA World Factbook 2021
  89. "Military expenditure (% of GDP) | Data". data.worldbank.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2010. Diakses tanggal 1 January 2020.
  90. "Tchad – Organisation administrative : 23 provinces, 95 départements et 365 communes" (dalam bahasa Prancis). Tchadinfos. August 8, 2018. Diakses tanggal May 28, 2025.
  91. Le Secrétariat Général du Gouvernement du Tchad (July 4, 2024). "PRÉSIDENCE DE LA RÉPUBLIQUE — Ordonnance N°001/PR/2024 du 04 juillet 2024, Portant restructuration des Unités Administratives". Facebook (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal May 28, 2025.
  92. (dalam bahasa Prancis) "Tchad Diarsipkan 15 May 2007 di Wayback Machine.". L'évaluation de l'éducation pour tous à l'an 2000: Rapport des pays. UNESCO, Education for All.
  93. (dalam bahasa Prancis) Dadnaji, Dimrangar (1999); "La decentralisation au Tchad". Diarsipkan dari asli tanggal 8 March 2008. Diakses tanggal 19 June 2007.
  94. "Chad Diarsipkan 14 June 2007 di Wayback Machine." (PDF). African Economic Outlook 2007. OECD. May 2007. ISBN 978-92-64-02510-3
  95. 1 2 "Chad Diarsipkan 16 October 2019 di Wayback Machine.". Country Reports on Human Rights Practices 2006, 6 March 2007. Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor, U.S. Department of State.
  96. "World Economic Outlook Database, October 2023 Edition. (Chad)". IMF.org. International Monetary Fund. 10 October 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 November 2023. Diakses tanggal 18 October 2023.
  97. "OHADA.com: The business law portal in Africa". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2009. Diakses tanggal 22 March 2009.
  98. 1 2 3 "Background Note: Chad Diarsipkan 22 December 2019 di Wayback Machine. ". September 2006. United States Department of State.
  99. Bush, Ray (2007). Poverty and neoliberalism: persistence and reproduction in the global south. Pluto Press. ISBN 9780745319605.
  100. Amin, Samir (1990). Maldevelopment: Anatomy of a Global Failure. United Nations University Press. ISBN 9780862329310.
  101. Bond, Patrick (2006). Looting Africa: The Economics of Exploitation. Zed Books. ISBN 9781842778111.
  102. "Chad – Community Based Integrated Ecosystem Management Project Diarsipkan 14 June 2007 di Wayback Machine." (PDF). 24 September 2002. World Bank.
  103. Decalo, p. 11
  104. Humanitarian Action in Chad: Facts and Figures – Snapshot Report, UN, 6 March 2008
  105. Eastern Chad: Concerns over vital humanitarian needs (press release), UN, 7 February 2008
  106. Timberg, Craig (6 February 2008) Chadian Rebels Urge Cease-Fire As Push Falters Diarsipkan 14 October 2017 di Wayback Machine., The Washington Post
  107. Crisis in Chad | Save the Children UK Diarsipkan 22 April 2014 di Wayback Machine.. Savethechildren.org.uk. Retrieved on 28 September 2013.
  108. "The World Bank in Chad". The World Bank. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 May 2022. Diakses tanggal 25 May 2022.
  109. Projections demographiques 2009–2050 Tome 1: Niveau national (PDF) (Report) (dalam bahasa Prancis). INSEED. July 2014. hlm. 7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 December 2015. Diakses tanggal 18 December 2015.
  110. "Life expectancy at birth, total (years) Diarsipkan 10 October 2017 di Wayback Machine.". October 2016. World Bank
  111. "Chad Livelihood Profiles Diarsipkan 4 May 2012 di Wayback Machine." (PDF). March 2005. United States Agency for International Development.
  112. "COMMISSION DECISION of on the financing of a Global Plan for humanitarian operations from the budget of the European Union in CHAD" (PDF). European Commission. 2008. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-10-09.
  113. "Chad: Humanitarian Profile – 2006/2007 Diarsipkan 14 July 2007 di Wayback Machine." (PDF). 8 January 2007. Office for the Coordination of Humanitarian Affairs.
  114. "Chad Diarsipkan 14 June 2007 di Wayback Machine." (PDF). Women of the World: Laws and Policies Affecting Their Reproductive Lives – Francophone Africa. Center for Reproductive Rights. 2000
  115. Haber, Marc; Mezzavilla, Massimo; Bergström, Anders; Prado-Martinez, Javier; Hallast, Pille; Saif-Ali, Riyadh; Al-Habori, Molham; Dedoussis, George; Zeggini, Eleftheria; Blue-Smith, Jason; Wells, R. Spencer; Xue, Yali; Zalloua, Pierre A.; Tyler-Smith, Chris (1 December 2016). "Chad Genetic Diversity Reveals an African History Marked by Multiple Holocene Eurasian Migrations". The American Journal of Human Genetics. 99 (6): 1316–1324. doi:10.1016/j.ajhg.2016.10.012. ISSN 0002-9297. PMC 5142112. PMID 27889059.
  116. "Chad's Languages - GraphicMaps.com". www.graphicmaps.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-06.
  117. Keegan, John M. (2017). "Sara Bagirmi Languages Project".
  118. "Table: Christian Population as Percentages of Total Population by Country". Pew Research Center. 19 December 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 11 May 2017. Diakses tanggal 16 April 2018.
  119. "Table: Muslim Population by Country". Pew Research Center. 27 January 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2018. Diakses tanggal 16 April 2018.
  120. "The World's Muslims: Unity and Diversity" (PDF). Pew Forum on Religious & Public life. 9 August 2012. hlm. 128–129. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 October 2012. Diakses tanggal 2 June 2014.
  121. 1 2 3 "Religious demographics (Chad)". Association of Religion Data Archives. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2022. Diakses tanggal 2022-09-29.
  122. 1 2 3 "Chad Diarsipkan 23 December 2019 di Wayback Machine.". International Religious Freedom Report 2006. 15 September 2006. Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor, U.S. Department of State.
  123. 1 2 "2021 Report on International Religious Freedom: Chad". United States Department of State (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-09-29.
  124. Spera, Vincent (8 February 2004); "Chad Country Commercial Guide – FY 2005". Diarsipkan dari asli tanggal 15 October 2007. Diakses tanggal 6 May 2007.. United States Department of Commerce.
  125. "Symposium on the evaluation of fishery resources in the development and management of inland fisheries Diarsipkan 22 December 2007 di Wayback Machine.". CIFA Technical Paper No. 2. FAO. 29 November – 1 December 1972.
  126. 1 2 3 4 "Chad: A Cultural Profile" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 October 2006. Diakses tanggal 19 June 2007. (PDF). Cultural Profiles Project. Citizenship and Immigration Canada. ISBN 0-7727-9102-3
  127. (dalam bahasa Prancis) Gondjé, Laoro (2003); "La musique recherche son identité Diarsipkan 22 April 2014 di Wayback Machine.", Tchad et Culture 214.
  128. Staff (2 July 2007). "Chad". FIFA, Goal Programme. Diarsipkan dari asli tanggal 29 June 2007. Diakses tanggal 10 August 2006.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut

[sunting | sunting sumber]
  • Negara dan Bangsa Jilid 2: Afrika, Asia. Jakarta: Widyadara. 1988. ISBN 979-8087-01-1. (Indonesia)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Pemerintah

[sunting | sunting sumber]

Selayang pandang

[sunting | sunting sumber]

Direktori

[sunting | sunting sumber]

Pariwisata

[sunting | sunting sumber]

Lain-lain

[sunting | sunting sumber]