Lompat ke isi

Keberadaan Tuhan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Keberadaan Tuhan merupakan subjek perdebatan dalam filsafat ketuhanan dan agama.[1] Berbagai macam argumen yang mendukung dan menentang keberadaan Tuhan―dengan argumen serupa atau sama yang juga dipakai untuk memperdebatkan keberadaan dewa-dewi―dapat digolongkan menjadi argumen logis, empiris, metafisik, subjektif, dan ilmiah. Dalam kerangka filsafat, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan mencakup penerapan epistemologi (sifat dan jangkauan pengetahuan) dan ontologi (kajian sifat tentang suatu hal dan keberadaan).

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Ide tentang Tuhan pada orang beragama secara umum biasanya dijelaskan dalam tabiat Tuhan: Yang Mahatinggi, Yang Mahabesar, Yang Mahakuasa, Yang Mahabaik dan sebagainya. Anselmus mengatakan: "Tuhan adalah sesuatu yang lebih besar dari padanya tidak dapat dipikirkan manusia."[2] Menurut Anselmus, ajaran-ajaran Kristen bisa dikembangkan dengan rasional, jadi tanpa bantuan otoritas lain (Kitab Suci, wahyu, ajaran Bapa Gereja). Bahkan ia bisa menjelaskan eksistensi Tuhan dengan suatu argumen yang bisa diterima bahkan juga oleh mereka yang tidak beriman. Eksistensi Tuhan dimulai dari pikiran manusia yang menerima begitu saja ajaran agama, tetapi juga menanyakannya dari siapa dan mengapa dirinya ada, alam alam, dan Tuhan sendiri bisa diterima adanya.[3]

Beberapa sikap orang beriman dalam mencari pencerahan akan adanya Tuhan:[3]

  • Manusia yang menerima begitu saja dikarenakan ajaran turun-temurun dari para pendahulunya, manusia ditekankan harus percaya, bahkan tanpa bertanya.
  • Manusia mulai bertanya mengapa dirinya ada? Mengapa alam ada?
  • Kemudian menanyakan Tuhan terkait; siapa, isinya, dan mengapa Dia ada?

Semua jawaban itu akan dijawab oleh para ahli dalam bidang yang disebut teologi, ilmu tentang hubungan manusia dan ciptaan dengan Tuhan. Jawaban-jawabannya bisa sangat beragam, tergantung agama dan kepercayaan yang mana yang memberikan jawaban. Namun setidaknya ada beberapa kesimpulan yang mereka berikan sebagai jawaban:[3]

  • Tuhan ada, dan adanya Tuhan itu dapat dibuktikan secara rasional juga;
  • Tuhan ada, tetapi tidak dapat dibuktikan adanya;
  • tidak dapat diketahui apakah Tuhan benar-benar ada;
  • Tuhan tidak ada, dan ketentuan ini dapat dibuktikan juga.

Oleh karena itu filsafat berusaha membuktikan keyakinan-keyakinan manusia itu melalui berbagai jalan; metafisika, empirisme, rasionalisme, positivisme, spiritualisme, dan sebagainya.

Teisme adalah paham yang memercayai adanya Tuhan. Di bawah ini beberapa pemikiran filsuf yang memercayai adanya Tuhan.

Santo Agustinus (354–430)

[sunting | sunting sumber]

Santo Agustinus―seorang Bapa gereja, Uskup dari Hippo―percaya bahwa Tuhan ada dengan melihat sejarah dari drama penciptaan, yang melibatkan Tuhan dan manusia. Tuhan menciptakan daratan untuk manusia, menciptakan manusia (Adam) yang berdosa melawan Tuhan. Lalu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian setelah manusia berkembang, mereka berdosa lebih lagi dan dihukum dengan air bah dalam sejarah Nuh. Orang-orang Yahudi yang diberikan perjanjian Tuhan ternyata tidak dapat memeliharanya sehingga dihukum melalui bangsa-bangsa lain. Lalu Tuhan yang maha kasih menebus manusia melalui Yesus Kristus. Dari sejarah ini Tuhan dapat selalu ada di tengah-tengah manusia. Memang Agustinus membela eksistensi Tuhan dari pandangan-pandangan lain yang ingin meruntuhkan paham teisme. Tuhan didefinisikan dari sifat-sifatnya; mahatahu, mahahadir, kekal, pencipta segala sesuatu. Namun lebih lagi, Tuhan bukan ada begitu saja, tetapi selalu terhubung dalam peristiwa-peristiwa besar manusia.[4]

Thomas Aquinas (1225–1274)

[sunting | sunting sumber]
Santo Thomas Aquinas

Thomas Aquinas menggabungkan pemikiran Aristoteles dengan Wahyu Kristen.[4] Kebenaran iman dan rasa pengalaman bukan hanya cocok, tetapi juga saling melengkapi; beberapa kebenaran, seperti misteri dan inkarnasi dapat diketahui melalui wahyu, sebagaimana pengetahuan dari susunan benda-benda di dunia, dapan diketahui melalui rasa pengalaman; seperti kesadaran manusia akan eksistensi Tuhan, baik wahyu maupun rasa pengalaman dipakai untuk membentuk persepsi tentang adanya Tuhan. Thomas Aquinas terkenal dengan lima jalan (dalam Bahasa Latin; quinque viae ad deum) untuk mengetahui bahwa Tuhan benar-benar ada. Argumen logis dari Aquinas untuk membuktikan keberadaan Tuhan disusunnya dalam bukunya yang berjudul Summa Theologia. Dalam bukunya ini ia menyebutkan lima jalan untuk membuktikan keberadaan Tuhan.[5]

  • Jalan pertama adalah gerak, bahwa segala sesuatu bergerak, setiap gerakan pasti ada yang menggerakkan, tetapi pasti ada sesuatu yang menggerakkan sesuatu yang lain, tetapi tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain, Dialah Tuhan.
  • Jalan kedua adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai sebabnya, tetapi ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab pertama, Tuhan.
  • Jalan ketiga adalah keniscayaan, bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa ada dan ada yang bisa tidak ada (contohnya adalah benda-benda yang dahulu ada ternyata ada yang musnah, tetapi ada juga yang dulu tidak ada ternyata sekarang ada), tetapi ada yang selalu ada (niscaya) Dialah Tuhan.
  • Jalan keempat adalah pembuktian berdasarkan derajat atau gradus melalui perbandingan, bahwa dari sifat-sifat yang ada di dunia ( yang baik-baik) ternyata ada yang paling baik yang tidak ada tandingannya (sifat Tuhan yang serba maha) Dialah Tuhan.
  • Jalan kelima adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi mempunyai tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah ada yang mengaturnya, Dialah Tuhan.

Descartes (1596–1650)

[sunting | sunting sumber]

Rene Descartes memikirkan Tuhan bermula dari prinsip utamanya yang merupakan "gabungan antara pietisme Katolik dan sains".[6] Descartes adalah seorang filsuf rasionalis yang terkenal dengan pemikiran ide Tuhan.[7] Tantangan yang mendorong Descartes adalah keragu-raguan radikalnya, The Methode of Doubt, bahkan menurutnya,"indra bisa saja menipu, Yang Maha Kuasa dalam bayangan kita juga bisa saja menipu, sebab kita yang membayangkan".[7][8] Dalam menjawab skeptisisme orang-orang pada masanya, maka dalam tinggalnya di Neubau, dekat kota Ulm - Jerman, disebut sebagai “perjalanan menara”, kata lain dari meditasi yang dilakukan, dia menemukan Cogito, ergo sum tahun 1618.[2][7] Karena orang pada zamannya meragukan apa yang mereka lihat, maka hal ini dipatahkan oleh Descartes bahwa apa yang dipikirkan saja sebenarnya sudah ada, minimal di pikiran. Orang bisa menyangkal segala sesuatu, tetapi ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Jadi Tuhan di sini juga demikian, Tuhan sudah ada dengan sendirinya, bahkan lebih jauh Descartes mencari bukti-bukti empiris yang dia warisi dari para pendahulunya. Keterbukaan untuk mengemukakan ide dalam pikiran, maka segala sesuatu yang dapat dipikirkan pasti bisa ada. Alkitab salah satu bukti eksistensi Tuhan, kemudian juga relasi bahwa manusia, binatang, malaikat, dan objek-objek lain ada karena natural light yang adalah Tuhan sendiri.[7]

Filsafat Ketuhanan menurut Descartes adalah berawal dari fungsi iman, yang pada akhirnya berguna untuk menemukan Tuhan. Tanpa iman manusia cenderung menolak Tuhan. Ada dua hal yang bisa ditempuh agar Aku sampai pada Tuhan:[2]

  • Jalan yang pertama adalah sebab akibat, bahwa dirinya sendiri (manusia) pasti diakibatkan oleh penyebab pertama, yaitu Tuhan.
  • Jalan yang kedua adalah secara ontologis, yang diwarisinya dari Anselmus. Tuhan yang ada itu tidak mungkin berdiri sendiri, tanpa ada kaitan dengan suatu entitas lain, maka Tuhan pasti ada dan bereksistensi. Maka Tuhan yang ada dalam ide Descartes sempurna sudah, bahwa Dia ada dan dapat diandalkan dalam relasi dengan entitas lainnya itu.

Imanuel Kant (1724–1804)

[sunting | sunting sumber]
Immanuel Kant dengan kata-kata "Langit berbintang di atasku dan hukum moral di batinku".

Ajaran Kant tentang Tuhan ditemui dalam hukum moralnya melalui beberapa tahap: 1. Tuhan adalah suara hati; 2. Tuhan adalah tujuan moralitas; 3. Tuhan adalah pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak baik demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan sempurna.[2] Menurut Kant ada tiga jalan untuk membuktikan adanya Tuhan di luar spekulasi belaka, dan hal ini dimungkinkan:[9]

  • Dimulai dari menganalisis pengalaman kemudian menemui kualitas dari sense dunia kita, lalu meningkat menjadi bukum kausalitas mencapai penyebab di luar dunia.
  • Berdasar hal pertama, kita masih pada tataran pengalaman yang tidak bisa dijelaskan.
  • Di luar konsep-konsep itu, manusia memiliki a priori dalam rasionya, dan itu menjadi penyebab yang memang ada.

Lalu dari usaha dari pengalaman dianalisis dengan apriori (pemikiran awal sebelum membutktikan sesuatu) dalam otak kita, kita membagi tiga bentuk definisi atas pengalaman; Psikologi-teologi, kosmologi dan ontologi. Dari hal yang dialami (empiris) menuju transendensi; bahwa manusia hanya akan berspekulasi saja. Kritik Kant terhadap Thomas Aquinas juga mengenai hal-hal spekulatif, padahal Tuhan nyata adanya. Di sini Kant kemudian mengakui bahwa Tuhan sebagai pemberi a priori dan pengalaman itu sendiri tidak terdapat dalam baik pengalaman maupun a priori, tetapi melampaui hal itu. Maka Kant sangat terkenal dengan kata-katanya: "Langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam batinku".[9]

Hegel (1770–1831)

[sunting | sunting sumber]

Hegel juga disebut filsuf idealisme Jerman.[10] Ajaran yang terkenal dari Hegel adalah dialektika, tentang adanya dua hal berbeda (bahkan kontras) yang bertemu dan membentuk hal baru. Pertama-tama Hegel membedakan antara rasio murni (dalam Kant) sebagai kesadaran manusia, tetapi ada yang lebih dari itu yaitu intelek. Intelek itu senantiasa mengerjakan kinerja rasio dan intelektualitas sehingga dialektika terus terjadi. Roh Absolut yang adalah intelek itu bekerja dan menyatakan dirinya dalam proses sejarah manusia. Pekerjaan Roh itu dapat mencapai tujuannya dalam alam semesta ketika terjadi dialektika antara subjek dan objek, antara yang terbatas dan tidak terbatas, dan yang paling bisa dimengerti adalah antara yang imanen dan transenden. Hegel berpendapat Tuhan di dalam agama Kristen juga bekerja seperti peristiwa reformasi yang sebenarnya merupakan peristiwa pemulih atau pengembali keadaan manusia menjadi baik kembali. Dari peristiwa-peristiwa itu maka Tuhan menurut Hegel dapat diartikan dalam tiga tahap:[2] 1. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah adalah proses perjalanan Roh (Tuhan) yang menemukan dirinya sendiri 2. Melalui manusia dengan kesadarannya, Roh itu menemukan dirinya (peristiwa revolusi oleh Napoleon misalny) 3. Sehingga terjadi keselarasan arah gerak manusia dan arah gerak Roh dalam emansipasi dan kebebasan manusia, untuk itu Roh akan memakai nama "Akal budi". Namun Tuhan yang dinyatakan Hegel sebenarnya terikat pada manusia yang berproses dalam sejarah.

Schleiermacher (1768–1834)

[sunting | sunting sumber]

Schleiermacher adalah penganut Kant, tetapi baginya Tuhan lebih baik tidak ditelusuri dengan metafisika belaka, tetapi perlu dihayati kehadirannya, yaitu dengan kontemplasi. Baginya, Tuhan yang tidak bisa ditangkap indrawi tidak bisa juga dilacak dengan rasio murni. Istilah yang dipakai oleh Schleiermacher untuk Tuhan adalah "Sang Universum". Jika Kant mengenal Tuhan sebagai pemberi hukum moral yang melampaui rasionya, Schleiermacher menganggap Tuhan yang dimaksud Kant tidak memadai dalam kehidupan manusia, sebab Tuhan hanya pemberi ganjaran kepada orang yang baik dan penghukum orang yang kurang baik. Sebab Tuhan, bagi Schleiermacher tidak mungkin memberi hukuman kekal kepada manusia lantaran ia tidak sempurna, hal ini dikarenakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bukan agar ia sempurna, melainkan agar ia berikhtiar mencapai kesempurnaan itu.[2]

Scleiermacher mendekati Tuhan bukan dari teori spekulatif, bukan dengan pendekatan moral-praktis, melainkan pendekatan intuitif-batin, dalam bahasanya melalui kontemplasi dan perasaan. Agama adalah Sang Universum sendiri. Sang Universum ditangkap dari alam dunia yang mamanifestasikannya. Namun alam dunia bukanlah Sang Universum yang berdiri sendiri, tetapi tetap memanifestasikan alam.[2] Pembedaan ini melaui dua tahap: 1. Alam adalah wahyu Tuhan, dan ditangkap oleh sanubari manusia; 2. wahyu yang lebih tinggi dan lebih baik adalah manusia yang menurut Schleiermacher tidak terbagi-bagi dan tidak terbatas, tetapi bereksistensi. Dalam aktivitas umat manusia itulah Tuhan menyatakan diri, alam diresapi oleh Yang Ilahi. Namun manusia bukanlah Tuhan sendiri. Maka tugas agama adalah mencari menemukan Tuhan yang ada di luar dirinya. Agama harus tinggal dengan pengalaman-pengalaman langsung untuk mencari Tuhan dan mencari keterhubungannya secara menyeluruh, bukan berfilosofi.[2]

Alfred North Whitehead (1861–1947)

[sunting | sunting sumber]
Alfred North Whitehead

Alfred North Whitehead dijuluki sebagai bapak filsafat maupun teologi proses.[2] Pemikirannya tergolong abstrak karena pengaruh bidang yang digelutinya, matematika dan pengetahuan empirisme mengenai alam yang didapatkannya dari fisika terapan. Dalam bukunya tentang Bagaimana Agama Terjadi (1926) dia menyatakan:

Dogma-dogma agama adalah upaya untuk memformulasikan secara presis kebenaran-kebenaran yang tersibak di dalam pengalaman religius umat manusia. Dengan cara yang sama dogma-dogma fisika (teori-teori, hukum, dan postulat) merupakan upaya untuk memformulasikan secara presis kebenaran-kebenaran yang tersingkap di dalam pencerapan inderawi umat manusia.[2]

Filsafat prosesnya memakai dua pendekatan: Prinsip proses dan kreativitas.[2] Dari prinsip ini maka proses dibedakan dalam dua: 1. Prinsip bagi proses yang bersifat mikrokopis (konkresi) adalah asas yang memungkinkan lahirnya wujud aktual baru dari aktual-aktual lama yang sudah penuh. 2. Prinsip bagi proses yang bersifat makrokopis (objektifikasi) yang memungkinkan sesuatu yang sudah penuh berubah dan menjadi datum lagi.

Prinsip kreativitas itu disimpulkan secara logis berdasarkan analisisnya atas satuan aktual sebagai wujud ciptaannya. Proses kreativitas dan pembaruan dari satuan aktual-aktual terus terjadi, salah satu partisipannya adalah Tuhan, tetapi Dia yang paling menonjol karena dia adalah yang awali dan yang akhiri.[2] 1. Yang awali: Tuhan memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai dasar awali yang adanya tatanan dalam seluruh jagat raya dan sebagai dasar munculnya kebaruan dalam perwujudan suatu peristiwa aktual. 2. Yang akhiri: Tuhan sebagai penyerta yang tanggap dan menyelamatkan.

Jadi Tuhan bagi Whitehead memiliki 3 peran yang disebut di atas, dengan begitu dia bisa mengendalikan setiap perubahan yang terjadi atas aktual-aktual lain dan mengakhirinya dengan baik.[2]

Deisme dianalogikan seperti Tukang Jam, yang menciptakan jam secara teratur dan membiarkannya berjalan sendiri

Deisme adalah pandangan khas tentang Tuhan di masa Pencerahan, berasal dari deus yang artinya Tuhan.[10] Namun pandangan ini berbeda dengan teisme, sebab Tuhan dipercaya hanya pada waktu penciptaan, selanjutnya tidak berhubungan dengan dunia lagi karena dunia yang sudah teratur dari semula. Tuhan dianalogikan seperti pencipta arloji yang bisa berjalan sangat teratur tanpa campur tangan penciptanya. Jadi Deisme hanya percaya Tuhan pertama kali, setelah itu dianggap tidak ada. Paham ini dianggap sebagai benih dari munculnya pandangan ateisme yang secara terbuka menyangkal adanya Tuhan. Pandangan yang muncul pada abad 18 di Prancis.[10]

Agnostisisme

[sunting | sunting sumber]

Agnostisisme adalah paham manusia yang tidak mau tahu atau tidak tahu tentang adanya Tuhan. Namun hal ini lebih disebabkan karena kebuntuan pemikiran untuk mendefinisikan Tuhan.[10] Bagi para filsuf ini, Tuhan di berada di luar Jangkauan pemikiran manusia.[10]

Ateisme berarti penyangkalan adanya Tuhan. Namun arti tentang Tuhan yang disangkal adanya, tidak sama dengan pandangan semua orang, oleh karenanya arti ateisme berbeda-beda juga.[3] Lima model ateisme yang diuraikan Franz Magnis Suseno adalah ateisme dalam diri Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud dan Jean Paul Sartre.

Saintisme

[sunting | sunting sumber]

Saintisme, sesuai dengan dogma rasionalis, memandang inteligensi manusia sebagai ukuran seluruh inteligibilitas, saintisme membatasi rasionalisme sendiri dalam batas-batas pengetahuan saja, sehingga roh manusia sendiri direduksi sampai dimensi ilmiah saja. Segala sesuatu dipandang sebagai objek yang dapat diukur, bahkan subjek pada akhirnya nanti dibendakan juga. Maka pada akhirnya saintisme menolak metafisika, sehingga apa yang dipikirkan secara metafisik dibendakan begitu saja, dan ini adalah bentuk ateisme. Problem lebih lanjut adalah saintisme melawan pemikiran agama dan iman. Hal ini terjadi pada masa Galilei yang mengemukakan tentang bumi yang diistilahkan geo-sentris. Hal lain yang kemudian muncul juga pada Charles Darwin dengan teori evolusi yang menyangkal kisah penciptaan manusia dalam naskah Alkitab.[11]

Ludwig Feuerbach

[sunting | sunting sumber]
Ludwig Feuerbach.

Ateisme menurut Feuerbach (1804–1872) adalah memandang Tuhan dalam agama hanya sebagai proyeksi dari kehendak manusia saja.[10] Dia menolak pandangan Hegel yang menyatakan Tuhan mengungkapkan diri dalam kesadaran manusia. Baginya, yang nyata bukan lah Tuhan, yang nyata adalah manusia. Tuhan hanyalah proyeksi manusia yang mendamba sifat-sifat yang tidak dapat dicapainya. Kehendak manusia untuk berkuasa, serba tahu, ada di mana-mana, dan tidak terikat waktu itu kemudian dilemparkannya pada "hal lain" yang adalah Tuhan. Sebab kepastian yang nyata adalah yang dapat di tangkap inderawi, yaitu realitas manusia. Pandangan seperti ini nanti akan masuk dalam filsafat meterialisme. Kebaikan pandangan Feuerbach ini adalah menyatakan hakikat manusia untuk kreatif, berbelas kasih, baik, saling menyelamatkan dsb. Aneh bila manusia menyembah Tuhan yang adalah dirinya sendiri, maka manusia seharusnya menarik agama ke dalam dirinya sendiri supaya ia menjadi kuat, baik, adil dana maha tahu.[10]

Karl Marx

[sunting | sunting sumber]
Karl Marx terkenal dengan kutipannya, Agama adalah candu masyarakat.

Menurut Karl Marx, agama adalah candu (Opium) masyarakat. Karena agama, masyarakat menjadi tidak maju dan bersikap rasional.[10] Agama yang dimaksud Marx adalah agama Kristen Ateisme yang diajarkan Marx adalah ateisme modern. Agama yang mengajarkan Tuhan yang serba bisa hanya menipu dan menyesatkan masyarakat. Marx mengkritik Feuerbach yang hanya menyatakan bahwa Tuhan adalah khayalan, tetapi tidak mencari sebabnya. Bagi Marx sebab yang diberikan adalah manusia lari kepada Tuhan karena penindasan yang mereka terima dari masyarakat kelas yang dikritiknya. Menurutnya agama hanya menjadi penghalang manusia untuk menyangkal dan memperbaiki hidupnya yang sedang ditindas, seandainya Tuhan dan agama tidak ada, maka manusia bisa hidup bebas dan bermartabat. Di sinilah Tuhan sekiranya dicoret karena tidak diperlukan. Manusia seharusnya menolak kapitalisme yang sedang menindas mereka.[10]

Sigmund Freud

[sunting | sunting sumber]
Sigmund Freud, mencari Tuhan dari psikoanalis.

Filsafat Ketuhanan dalam pandangan Sigmund Freud dengan terori psikoanalisnya dimulai dengan pertanyaan, "Apakah kepercayaan akan Tuhan dapat dipertanggungjawabkan?"[3] Hal ini berawal dari analisisnya tentang perkembangan manusia yang memercayai agama yang terkadang tidak mencari kebenaran-kebenaran di dalamnya. Manusia yang hanya menerima begitu saja agama-agama yang diajarkan kepadanya. Ide Tuhan hanyalah ilusi, tetapi begitu dibutuhkan manusia seperti seorang manusia yang membutuhkan seorang bapak yang melindunginya. Namun Freud mengajukan pertanyaan selanjutnya, "Apakah agama benar-benar baik bagi manusia?"[3] Jawabannya adalah ambigu. Yang ditekankan olehnya adalah seharusnya manusia bertanya akan imannya sehingga dia tidak terjebak dalam bentuk-bentuk infantil dan neurotis. Freud tidak memperdebatkan realitas Tuhan, tetapi lebih mengupas ilusi palsu kesadaran manusia. Karena bertanya, maka sesungguhnya penjelasan yang dikemukakan agama tidaklah memadai, Tuhan tidak bisa dijelaskan dalam intelektual, sehingga perlu ditolak juga. Terlebih lagi jika dicari manfaatnya, agama hanya sebagai penghambat perkembangan pribadi, maka harus pula ditolak.[3]

Friedrich Nietzsche (1844–1899)

[sunting | sunting sumber]
Nietzche yang terkenal dengan Tuhan sudah mati, kitalah yang membunuh-Nya

Friedrich Nietzsche sangat terkenal dengan Sabda Zarathustra (1883) bahwa "Tuhan telah mati".[4] Inilah awal mula penolakannya terhadap Tuhan. Penolakannya terhadap Tuhan sebenarnya berasal dari kebenciannya melihat orang Kristen yang tidak menunjukkan kekristenan yang seharusnya menampilkan kasih. Kebenaran bagi dia sangat subjektif, dipikirkan manusia yang sangat super kekuasaannya terhadap dirinya sendiri. Subjektivitas itu juga dalam hal kebenaran agama, apa yang disebut baik bisa saja sebenarnya sangat buruk, apa yang disebut buruk bisa saja sebenarnya sangat baik. Agama Kristen dianggap oleh Nietzsche sebagai bentuk Platonisme baru yang memisahkan antara dunia, kosmologi, materi dan apa yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Dari sini keburukan Kristen kata Nietzsche dipandang meremehkan hal-hal duniawi, tampak seperti gnosis yang meremehkan hidup (tubuh, dunia, hawa nafsu) sehingga merupakan hasrat akan kehampaan, kehendak akan dekadensi, sebagai penyakit, kelesuah dan kepayahan hidup. Hal ini ditujukan kepada agama Kristen yang memiliki label baik, sebenarnya sangatlah buruk, yaitu dengan ajaran-ajarannya yang sebenarnya membelenggu manusia untuk berkembang. Bagi dia, manusia adalah ukuran segala sesuatu, bukan Tuhan yang disebut agama Kristen.[4] Manusialah tuhan atas ciptaan ini dan yang mampu mengerjakan apa yang diinginkannya. Maka penolakan akan Tuhan adalah hal yang paling baik, sebab manusia menjadi tidak bergantung pada Tuhan (Kristen) yang hanya membelenggu manusia itu, katanya.[4]

J. Paul Sartre (1905–1980)

[sunting | sunting sumber]

Tuhan di mata Paul Sartre saat kecil adalah sosok penghukum yang mengawasinya di manapun dia berada, oleh karenanya dia tidak suka kehadiran Tuhan. Tuhan juga tidak hadir ketika dia ingin menemuinya. Oleh karena itu Sartre sudah menolak Tuhan yang tidak nyata semenjak umur 12 tahun Sartre yang tadi dididik secara Katolik berpindah kepada kesusastraan, yang disebut sebagai agama baru baginya.[12] Namun secara sistematis, dan khas eksistesialis, penolakan atas Tuhan ini dilakukannya karena pemisahan radikal dalam tulisannya Ada dan Ketiadaan terjemahan dari Being and Nothingness.[12] Baginya, di dunia ini tidak ada grand design yang mutlak, manusialah yang bisa mengatur dirinya sendiri dengan eksistensinya.[4] Eksistensi manusia mendahului esensinya; manusia ada dan kemudian menentukan "siapa dirinya".[4] Dia menyangkal Descartes tentang Aku berpikir, maka aku ada, yang benar adalah Aku ada lalu aku berpikir.[4] Dari sinilah dia meneruskannya dalam teori eksistensial fenomenologisnya, bahwa segala sesuatu harus dipisahkan dalam dua bagian; etre en soi / ada dalam dirinya sendiri atau etre-pour soi / ada untuk dirinya sendiri.[12] Segala sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri berarti tidak pasif, tidak aktif, tidak afirmatif juga tidak negatif, ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa dapat dirutunkan dari sesuatu lain, tidak berkembang. Sedangkan ada untuk dirinya sendiri adalah sebuah kesadaran], dan ini khas manusia.[12] Dari pemisahan inilah, dia melabel Tuhan orang Kristen yang tidak berubah itu masuk dalam golongan ada dalam dirinya sendiri, maka dari itu dia tidak lebih besar dari manusia yang memiliki kesadaran untuk memilih esensinya sendiri. Di sinilah penyangkalan Tuhan itu terjadi, dia tidak mengakui Tuhan lebih tinggi dari manusia, maka Tuhan tidak diperlukan lagi. Karena Tuhan tidak lagi ada, maka manusia menjadi bebas dan bisa menentukan kondisi bangsanya.[12] Di sinilah nilai positif Sartre yang kemudian menghabiskan seluruh kegiatan hidupnya untuk kebaikan manusia (gerakan sosial).[12] Bahkan dia pernah memenangi nobel perdamaian karena pengabdiannya terhadap kemanusiaan, tetapi ditolaknya.[12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. The Rationality of Theism quoting Quentin Smith "God is not 'dead' in academia; it returned to life in the late 1960s". They cite "the shift from hostility towards theism in Paul Edwards's Encyclopedia of Philosophy (1967) to sympathy towards theism in the more recent Routledge Encyclopedia of Philosophy.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Tjahyadi. S.P Lili., Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan, Yogyakarta: Kanisius 2007
  3. 1 2 3 4 5 6 7 (Indonesia)Theo Huijbers., Manusia mencari ALLAH suatu Filsafat Ketuhanan, Yogyakarta: Kanisius, 1977
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 (Inggris)Moris Engel and Engelica Soldan., The Study of Philosophy, USA: Rowman & Litlefield Publisher, Inc, 2008
  5. Tumanggor, R. O., dan Suharyanto, C. (2017). Sudibyo, Ganjar (ed.). Pengantar Filsafat untuk Psikologi (PDF). Sleman: Penerbit PT Kanisius. hlm. 111. ISBN 978-979-21-5457-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-12-28. Diakses tanggal 2022-01-19. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  6. John Veitch., A Discourse on Method – Meditation and Principles, Everyman’s Library 1912 halaman vii
  7. 1 2 3 4 (Inggris) The Miracle of Theism, USA; Oxford University Press, 1982
  8. Skirry. Justin., Descartes for the Perplexed, British, 2008 Hlm 24,
  9. 1 2 (Inggris)Diogenes Allen and Eric O. Springsted., Primary Readings in Philosophy for Understanding Theology, USA: John Knox Press, 1992
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (Indonesia)Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius 2006
  11. (Indonesia)Louis Leahy., Masalah Ketuhanan Dewasa Ini., Yogyakarta: Kanisius, 1982
  12. 1 2 3 4 5 6 7 (Indonesia) K Bertens., Filsafat Barat Kontemporer - Prancis, Jakarta: Gramedia, 2001